My list

May 08, 2013

Dia - Empat Puluh


E

Let me fall...
Let me climb
There's a moment when fear
And dreams must collide

Someone I am
Is waiting for courage
The one I want
The one I will become
Will catch me

So let me fall
If I must fall
I won't heed your warnings
I won't hear them

Let me fall
If I fall
Though the phoenix may
Or may not rise

I will dance so freely
Holding on to no one
You can hold me only
If you too will fall
Away from all these
Useless fears and chains

Someone I am
Is waiting for my courage
The one I want
The one I will become
Will catch me

So let me fall
If I must fall
I won't heed your warning
I won't hear

Let me fall
If I fall
There's no reason
To miss this one chance
This perfect moment...

Just let me fall...


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ku tinggalkan rumah ini bersama hati yang begitu berat sekali. Aku tahu aku tidak akan mungkin akan menjejakkan kaki ke sini lagi. Perjalanan malam ini masih lagi panjang, namun, aku tahu, perjalanan ini merupakan satu dari dua perjalanan yang masih berbaki di dalam hidupku.

Aku tiba di rumah abang Kamahl tepat pukul 11 malam. Setelah mengenali aku hampir 9 tahun, abang Kamahl dapat membaca akan kekeliruan dan kegundahan yang bersarang di dalam benak perasaanku. Dia hanya menyediakan secawan hot coklat sebelum duduk memeluk bahuku ketika duduk di ruang tamu. Tiada sebarang kata darinya. Dari masa ke masa, dia hanya mencium lembut dahiku. Aku tahu aku tidak berlaku adil kepada abang Kamahl, dan aku entah, aku sendiri tidak tahu samada aku punya kekuatan untuk membuka mulutku, menceritakan semua yang terjadi kepada abang Kamahl.

Tidak pernahku menyangka, perhubungan kami yang bermula di asrama 9 tahun dahulu bertahan sehingga kini. Dalam senang dan susah, dia tetap bersamaku. Di tahun-tahun sewaktu dia menyambung pelajarannya di UK dahulu, dia tidak lupa untuk mengutus surat kepadaku.

Aku mencapai telapak tangan abang Kamahl dan menggenggam eratnya. Dia melihat kearahku lalu tersenyum. “Adek sayangkan abang.”

“Abang pun sayangkan adek jugak.” Balasnya sebelum mencium tanganku.

“Esok Khai balik.” Kataku pendek.

“That’s great to hear. Berapa lama Khai balik sini?”

“Adek tak tau. Maybe not for too long.”

“Ok.”

Seketika kemudian abang Kamahl bangun dan mengambil cawanku lantas menuju ke dapur. “Dont stay up for too long ok. Get some rest.” Kata abang sebelum mencium dahiku dan masuk ke biliknya.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Khai dekat mana?”

“Khai dekat airport ni. Khai balik Malaysia pagi ni. Dalam pukul 9 lebih nanti sampai KLIA.” Balas Khai.

“Abang tahu, adek bagitahu abang sekejap tadi.”

“Ezra dah sampai rumah abang?”

“Sudah, dalam sejam tadi. Dia ada lagi di ruang tamu.”

“Berapa lama Khai balik Malaysia ni?”

“Mungkin untuk beberapa minggu dahulu. Lepas tue, Khai akan balik Perth sekejap, before coming back to Malaysia for good.”

“For good? I thought you still have few semesters left?”

“I am, but. But I need to be with him. I can’t afford to be away from him much longer.”

“Adek tahu tak pasal ni? How about your study?”

“Ezra tidak tahu lagi pasal ni. Pasal study, Khai akan cuba transfer my paper to Malaysia. I will figure something about it. But now, that is the second thing in the list. I have to be back now abang.”

“What do you mean by that? You know it is not an easy thing to do. To transfer your paper here. And what is this second thing in the list all about? Abang tak paham.”

“Abang, Khai tak tahu macam mana nak bagi tahu dekat abang. I mean, I can’t tell you. But all I can say is, Ezra needs me right now. Ezra needs us both. That is why I am coming back as soon as I can, and that is why I asked him to stay at your place. Please abang, take care of him until I arrive. Don’t loose sight of him. Khai akan terus ke rumah abang dengan cab setibanya di KLIA.”

“Seriously Khai, I don’t know what should I say to you right now. I knew from the beginning that it was such a bad idea for adek to asked you to go back to Murdoch, Perth alone. You know how vehemently I opposed to that idea. It would be much better if he agreed to come along with you. But we both know adek very well. He wont accept your money. I don’t know what is happening right now, I don’t know what should I do, I don’t know what is inside his mind. He looked pale, rigid. It seems like something is pulling his life out of him right now. He doesn’t look like his usual self at all.”

“Khai, I have the feeling that you knew what is happening. And I also know that you can’t tell me about it to me right now. Am I right?” tambah abang lagi.

“Yeah.” Balas Khai pendek.

“Whatever happen, I hope you both know that I will always be here for both of you. Whatever happen, know that we will make it better. I love you both as my little brothers. Never, ever let that slip out of your mind. When you are ready, when adek is ready, you can tell me anything. You have a strong will, and so does adek. But I have to admit, there were times that adek did something stupid. But, that doesn’t mean that I will leave him to be infested with his mistakes. You know that. And you know damn well that you would never ever leave him for whatever mistakes he did. He is young. He is only 21 and you are 27. Both of you are still young. It is my job to help you with your life. And it is also your job to help him walked the right path too.”

“Khai tahu abang. I never blame him for all these things. Whatever happened is the past. Now, all we can do is to make things better for him.”

“Ok then. Flight pukul berapa ni?”

“1.10 pagi ni. I should go now. They already call for boarding now.”

“Ok. I will leave a spare key at the guard house.”

“Thanks abang.”

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kapal terbang sudah pun 2 jam meninggalkan Perth International Airport. Masih lagi berbaki 6 jam sebelum aku tiba di KLIA. Kebanyakan penumpang sudah pun hanyut dibuai mimpi. Namun, aku masih terjaga. Fikiran ku melayang ke Malaysia. Aku tidak mampu untuk untuk melelapkan mataku. Entah apa yang dia sedang lakukan. Entah samada dia dapat melelapkan matanya atau dia juga sama sepertiku, masih lagi terjaga di pagi ini.

Terlalu banyak perkara yang bermain di fikiranku, namun tidak dapat untuk aku senaraikan satu persatu. Setiap kali aku cuba untuk menenangkan diriku, memori disaat dia kedengaran lemah di talian telefon beberapa jam sebelum ini kembali menghantui fikiran. Sungguh sayu sekali diriku mendengarkan tiap bait katanya yang penuh kesedihan. Aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menenangkan hatinya setibanya aku di KL. Apa yang kutahu, aku harus kembali kepada dia, kekasih hatiku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dear Khai my love,
By the time you read this, I am no longer in this world anymore. I hope it wasn't hard for you and abang Kamahl, and the rest to carry out my funeral. I hope my selfish act will redeem my sins to you.

These 4 years have been the greatest years for me. To be able to get to know you, to be able to have you in my life, and to be able to be with you. When I looked back to those years all this time, there were always smile on my face. You brought a new meaning to my life. You made me complete. I still remember when I first saw you. I fall for you instantly and after all the journey we had together, that was satisfying for me. That was enough, though I wanted more.

I am sorry that I chose this way as our final goodbye. I am not strong as you want me to be. I am sorry for being selfish, to leave you like this. For that I am truly sorry.

It wasn't easy. Truly it isn't. Those strength that was once full in my heart wasn't there anymore. I didn't have the courage to face you.

What I did was something I regretted till this very moment, and there was nothing I could do to redeem myself. This was the price for my mistakes. This was the price that I have to pay. To be HIV+, that was the price.

I hope you knew that I loved you so much.
I hope you knew that I wanted to be with you till we both aged.
I hope you knew that I always dream of you when you were far away.
I hope you knew that I still kept the very first text you sent me.
I hope you knew all that, that I love you.

Did you still remember when we first holding hands?
Did you still remember when we first kiss each other?
Did you still remember when we first declared ourselves?

I knew u did, simply because I did too.
I hope reading this won’t be painful to you, because it was very hard for me to write all this.

Don’t cry, because I would feel it too, though I am no longer there next to you.
You are a strong man, a good guy, and a cherished soul mate.

Let go of me, and continue with your life.

Be the man we both knew you are capable of.

And whenever you think of me, I hope you can smile, reminiscing out memories together.

I love you











---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jam sudahpun menunjukkan pukul 4.25 pagi. Aku masih lagi terjaga di dalam bilik. Abang Kamahl sudahpun masuk tidur beberapa jam yang lalu. Dan Khai sudah di dalam perjalanan pulang ke Malaysia. Masa hanya berbaki 5 jam sebelum Khai tiba di KLIA.

Aku menjenguk sebentar ke dalam bilik abang Kamahl, kelihatan abang Kamahl duduk di sofa di dalam biliknya. Hanya lampu mejanya yang dinyalakan. Setelah kuamati, rupanya abang Kamahl tertidur di sofa. Matanya tertutup rapat. Ku capai selimut di atas katil lalu ku selimuti abang Kamahl. Aku kemudian duduk di sisi abang Kamahl yang masih lena di buai mimpi, kepalaku ku baringkan di atas pehanya. Mataku kupejamkan, kurasakan degupan jantungku yang entah mengapa kurasakan semakin perlahan.

Sedar tidak sedar, sekali lagi untuk entah kesekian kalinya, air mataku kembali mengalir.
Tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut di kepalaku. Tangan abang Kamahl perlahan-lahan mengusap rambutku. Aku tidak terdaya untuk membuka mataku dan menatap wajah abang Kamahl. Abang Kamahl hanya membiarkan aku yang masih lagi berbaring di pehanya. Tangannya yang teguh kemudian diletakkan di bahuku, lantas abang Kamahl yang masih lagi duduk bongkok sedikit ke hadapan lantas mencium kepalaku. “Be strong adek.” Bisiknya kepadaku.

Aku hanya kaku, tidak sedikitpun kurasakan tenaga yang menjengah ke dalam diriku. Abang Kamahl lantas memegang kemas bahuku dan tangan kirinya diselitkan perlahan di bawah kepalaku lalu dengan perlahan aku di dirikan. Dia menuntunku ke katilnya sebelum menyelimuti aku. Dia duduk di kepala katil, di sebelah aku. Tangan kanannya mendakap kemas diriku. Abang Kamahl tidak berkata apa-apa walau sepatah.

Dia menepuk-nepuk bahuku, seperti seorang ibu yang menidurkan bayinya. Aku tenang, tangisan tadi sudah pun terhenti mengalir tanpa kusedari. Aku mengalihkan badanku menghadap abang Kamahl, lantas kepalaku ku letakkan di perut abang Kamahl. Mataku ku pejamkan. Hatiku yang sedari pagi tadi bergelojak tanpa henti kini mula tenang kembali.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jam di dinding menunjukkan pukul 11.25 pagi. Di sebelah kanan ku kosong, tiada kelibat abang Kamahl. aku mengimbas seketika sekeliling bilik, kelihatan abang Kamahl sedang duduk di sofa menghadapku. Dia tersenyum melihatkan aku sudah terjaga. Tangan kiri ku kurasakan di genggam seseorang, setelah ku toleh, Khai, yang masih lagi memakai sweater tertidur di atas kerusi yang di letakkan di sebelahku.

Abang Kamahl merapati katil dengan perlahan, dia mencium dahiku lembut. “I will get something for you to eat ok.” Katanya sebelum berlalu pergi.

Aku mengusap lembut kepala Khai. Entah sedari bila Khai tiba di sini. Khai masih lagi mengenakan sweater yang di pakainya. Mukanya yang terletak di atas katil bersebelahan ku ku capai. Jari jemari ku sedikit menggeletar pabila bersentuhan wajahnya. “I am sorry, Khai.” Bisikku perlahan.

Tangan kiriku yang masih lagi di genggam Khai tiba-tiba di genggam sedikit kuat. “Don’t be. You are not at fault. I am sorry. I am sorry for leaving you alone for so long. I miss you sayang. I love you. I will never leave you again.”

“Thanks.”

Aku bangun lalu menyandar di kepala katil. Khai lantas bangun dan duduk di sebelahku. Aku di rangkul kemas oleh Khai sebelum dia mencium bibirku. Khai, ketahuilah bahawasanya aku tidak mahu melepaskan dikau pergi dari hidupku. Namun, aku tahu, waktu untuk kita terus bersama hanya tinggal beberapa ketika sahaja lagi. Maafkan aku. Tidak mampu untuk aku luahkan kata-kata tersebut. Hanya bisikan di dalam hatiku yang tidak terungkapkan.

Aku dan Khai keluar dari bilik tidur abang Kamahl. Kelihatan abang Kamahl sedang menunggu kami di ruang tamu. Aku meminta Khai duduk dahulu di meja makan sebelum aku pergi mendapatkan abang Kamahl. Aku kemudian duduk di sebelah Khai, berhadapan abang Kamahl. Kami menjamah makanan yang disediakan. Masa seakan terhenti seketika. Tiada kata yang diungkapkan.

Nasi goreng kukunyah perlahan. Namun, selepas suapan ke 3 aku meletakkan kembali suduku ke pinggan. Khai melihatku. Dia mencapai tanganku lalu mengangguk perlahan kepadaku.

“Abang.” Kataku perlahan.

“Yer adek.”

“Adek ada perkara yang adek perlu bagitahu abang.”

Abang Kamahl hanya mengangguk perlahan sebelum kembali memandangku.

Khai di saat itu menggenggam erat tanganku. Aku perlukan kekuatannya di saat ini. Kuharapkan abang Kamahl dapat menerima akan perkhabaran yang akan ku katakan sebentar lagi.

“Adek HIV+.” Kataku pendek

“Astaghfirullah.” Abang Kamahl bingkas bangun lalu memelukku. “Everything will be fine. Adek, be strong. Both of you.”

“Thanks abang.” Balas Khai.

“What else the doctor said?”

“She gave me a referral letter to Hospital Sungai Buloh.”

“When are you going? I will come along.”

“Maybe next Wednesday.”

“And what is your plan for now?”

“I don’t know.” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

“If it’s ok, I want to take him for a vacation for few days.”

“Ok, maybe that’s good for now. Get yourself some rest. Adek?”

“Yeah.”

“Abang, by, adek minta maaf. Adek tak tahu adek dapat dari siapa, dari bila adek dah kena. Adek tahu tiada apa yang boleh adek lakukan untuk buang penyakit ini dari badan adek.  Adek tidak tahu apa yang harus adek lakukan sekarang. Adek sudah khianati Khai, adek sudah kecewakan abang. Adek rasa jijik dengan diri sendiri. Adek rasa sangat kotor. Adek, adek tidak tahu apa yang adek harus lakukan untuk menebus segalanya. Adek tidak layak untuk hadir di dalam hidup Khai, dalam hidup abang. Adek tidak mampu abang, Khai, adek tidak mampu untuk teruskan kehidupan sebegini rupa lagi. Maafkan adek.”

“Sayang, please sayang. Percayalah, tak pernah terlintas di fikiran by bahawa sayang telah mengkhianati by. By tahu sayang masih keliru, masih terkejut akan semua ini. Tapi percayalah, bagi by, dan by tahu bagi abang Kamahl juga, status sayang tidak akan mengubah perhubungan kita. Tiada sekelumit perasaan kotor atau jijik di hati kami. Sayang tetap sayang, tetap seseorang yang melengkapi jiwa dan raga by. Sayang tetap adek kesayangan abang Kamahl.” balas Khai. Kelihatan setitis air mata mengalir di pipinya. Maafkan aku wahai kekasih kerana membuat mu menangis, tapi aku tidak sekuat yang kau sangkakan.

Aku menarik perlahan tangan ku yang di genggam Khai. Aku leraikan dakapan abang Kamahl yang sedari tadi memelukku. Aku bingkas bangun dan berlalu pergi. “No, you have no idea what is this all about. You don’t know how guilty I am right now. You haven’t realize how filthy I am. I don’t deserve both of you. I just...” sebelum sempat aku menghabiskan apa yang ingin ku katakan Khai merangkul aku dan memelukku lantas bibirku di cumbuinya dengan rakus sekali. Aku yang cuba untuk menolak dirinya tidak mampu untuk meleraikan bibirnya dari bibirku. Rangkulan kemas Khai terlalu kuat. Ciuman Khai tidak putus-putus menyentuh bibirku. Titis-titis air mata Khai jatuh ke pipiku.

Khai kemudian mencampakkan ku ke sofa. Dia lalu mencapai ganas baju yang ku pakai sebelum merentapnya dan dicampakkan ke tepi. Dengan sebelah tangannya, dia menekan badanku agar aku tidak mampu untuk bergerak lalu dia mencium ke keseluruhan badanku. Bagaikan sesuatu yang sedang merasuk diriku, aku menampar Khai. Aku tidak sedar akan apa yang telah aku lakukan. “I am sorry.” Kataku teresak-esak.

Khai tidak mengendahkan ku, dia terus-terusan memperlakukan aku sedemikian rupa. Dia tidak berganjak walau seincipun, aku hanya mampu menjerit memintanya untuk berhenti. Aku tidak mahu mengotori dirinya.

Kemudian abang Kamahl memeluk Khai dari belakang sebelum meleraikan kami berdua. “Khai, bawa mengucap Khai. Jangan sesekali hilang pertimbangan.” Kata abang Kamahl lemah, abang Kamahl sedaya upaya mengawal dirinya yang jelas terpancar kesedihan di matanya.

“Sayang. By tidak tahu apa yang harus by lakukan untuk meyakinkan sayang yang perasaan by tidak walau sekelumit pun berubah selepas semua ini. By sayangkan sayang. By ingin bersama dengan sayang sehingga ke akhir hayat by. Percayalah sayang. By tidak mampu kehilangan sayang, by tidak mampu untuk membayangkan sekiranya kita tidak lagi bersama, by akan hilang tujuan hidup sekiranya sayang tiada lagi di dalam hidup by.”

Aku menekup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Air mataku yang sedari tadi ku cuba untuk tahan dari mengalir keluar mengkhianati ku. Aku tidak mampu untuk berhenti menangis.

Abang Kamahl melepaskan Khai perlahan. Khai terduduk seketika, sebelum dia melutut di hadapanku. Kedua telapak tanganku dicapai dan di letakkan di pipinya. “I am sorry sayang. Please forgive me. Stop crying ok. We will go through this together. I love you. I love you so much. Please, stop crying. My heart hurts when you cry. It is all my fault. It is my fault for leaving you behind.” Khai mencium lembut dahiku, sebelum sekali lagi bibirku dicium, namun kali ini, ciumannya perlahan, dan penuh kelembutan. Lama sekali bibir kami bertaut sebelum Khai melepaskan aku. “By pergi buat arrangement untuk kita bercuti esok ok.”

Aku melihat Khai berlalu pergi ke bilik study abang Kamahl. Abang Kamahl kulihat sedang berdiri di beranda, di jarinya terselit sebatang rokok yang dinyalakan. Aku bergerak perlahan ke arah beranda, lalu abang Kamahl ku dakapi. Tangan kiri abang Kamahl kemudian merangkul kemas diriku, “I love you, no matter what, my silly adek.”

Malam itu surat-surat yang ku tulis semalam ku simpan rapi di dalam sebuah kotak. Maafkan aku kerana menulis semua itu. 

Dia - Tiga Puluh Sembilan


T
Tidak tergambar dengan kata-kata akan perasaan ku ketika mendengar perkataan HIV itu diungkapkan. Jadi apa yang bermain di benak fikiran ku bukanlah satu khayalan semata. Ianya satu kebenaran. Entah kenapa, tanpa ku sedar aku menutup mataku untuk beberapa ketika. Fikiran ku kosong di saat itu. Entah untuk beberapa ketika, terngiang-ngiang perkataan HIV itu di dalam fikiran ku.

Aku kemudian dengan perlahan membuka mataku, “How long do I have left?” hanya itu yang mampu aku ungkapkan.

“I cant answer that question, because as for now, we dont know what stage are you in. Whether you have reach AIDS or not. Also, there is no such thing as life expectency when it comes to HIV. Being diagnosed with HIV today does not mean that that person will die the next day, or next month, or next year. We can’t say for certain. But, there are a lot of people out there who still be alive after so many years of being infected with HIV. We will talk about HIV in details again after this, but for now, with your consent, I would like to repeat another blood test, just to eliminate any possibility of human error or even technical error.”

“How long would it take? For the test?”

“Around 3 hours. I will need to withdraw fresh blood sample from you, and after 3 hours, we will see each other again and we will talk in details about HIV.”

Aku hanya mengangguk tanda memberikan persetujuanku. Baju kemeja putih yang kupakai ku selingsingkan ke lengan ku. Mataku tidak beralih apabila jarum yang digunakan oleh Dr Mazrima masuk ke salur darahku. Setiap titik darah itu kulihat merah pekat. Merah seperti biasa, tiada sebarang kelainan kelihatan.

“Ezra, we’re done. Maybe you might want to have something first for lunch before I have the result ready. I hope you will be here again at 3.00 pm.”

“I will doctor, thanks.”

Aku bingkas bangun dari kerusiku dan bergerak menuju ke pintu, namun, sebelum sempat aku membuka pintu, Dr Mazrima memanggilku,

“Ezra, be strong ok.”

Senyuman kecil kuberikan, sebelum aku keluar dari situ. Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti apa yang sedang bermain di fikiran ku. Sepanjang tempoh yang kuberikan kepada diriku untuk hadir ke sini, aku telah cuba untuk menyediakan diriku untuk menerima segalanya. Acap kali ku katakan kepada diriku, walau apa yang terjadi, semuanya akan menjadi ok.

Kata-kata yang kupegang itu seakan-akan terlepas sudah dari genggaman ku.  Aku buntu. Kurasakan semua ini gelap, semua ini kuharapkan hanyalah mimpi. Namin aku tahu, bahawa semua ini adalah kebenaran. Tiada sekelumit pun mimpi buruk akan apa yang sedang aku lalui ini. Semua ini adalah satu realiti. Aku seorang HIV positif.

Langkah kakiku membawa aku ke kereta, namun, aku tidak terus mencapai kunci di dalam poket, entah kenapa, kakiku kemudian membawaku ke bangunan bersebelahan. Balai Seni Lukis Negara. Entah kenapa aku kesini, namun, kuturutkan saja kemana langkah membawaku. Entah mengapa, seakan ada suatu yang menarikku ke sini. Tidak pernah terlintas di benak fikiranku, bahawa aku, seorang yang buta seni, seorang yang tidak tahu menghayati seni, menjejakkan kaki ke sini.

Di dalam, kelihatan beberapa hasil lukisan pelukis tersohor negara di paparkan. Aku terpaku. Aku hanya mampu berdiri umpama patung yang mati dan tidak bernyawa di situ. Tanpa kusedari, air mata ku menitis perlahan membasahi pipi.

“Bayi dan Ibu” itulah tajuk lukisan yang terpampang di hadapanku. Lukisan itu begitu hidup sekali, lukisan itu benar-benar meruntun jiwa ku. Aku terdiam. Setitis demi setitis air mata berlinangan. Aku terduduk. Titisan air mata itu kemudian menjadi lebih deras. Seperti anak kecil, aku teresak-esak menangis keseorangan, pandanganku tidak dapat ku leraikan dari menatap wajah ibu.

Aku tidak mengerti apa yang takdir sedang cuba tunjukkan kepadaku. Diriku kurasakan begitu sejuk sekali. Entah bila kali terakhir aku merasai kehangatan seperti yang terpancar di dalam lukisan itu. Telah ku buang sejauh-jauhnya keinginan untuk kembali merasakan kelembutan sentuhan kasih sayang seorang ibu. Namun, di saat ini aku tidak berdaya untuk mengharap, aku tidak berdaya untuk menidakkan keinginanku di belai manja.

Setiap titis air mata yang turun seakan membuka lebih banyak ruang kesunyian. Setiap nafas yang ku helakan ibarat tidak kesampaian. Setiap degupjantungku ibarat tidak membawa sebarang erti. Setiap langkah kakiku ibarat tidak tahu kemana arah tuju. Setiap saat yang berlalu sepanjang aku menatap lukisan itu hanya di penuhi dengan derita duka. Setiap detik fikiranku seakan-akan hanya membuatkan fikiran aku menjadi kelabu.

Aku rebah. Aku bingung. Aku hilang. Tiada lagi kurasakan hala tuju hidupku. Tiada lagi kekuatan mengalir di badanku. Tiada lagi keinginan untuk hidup di dalam hatiku. Tiada apa lagi yang tinggal untukku di dunia ini.

Aku nekad.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku menyusuri lebuh raya ke arah yang aku sendiri tidak pasti. Ujian kali kedua yang di lakukan mengesahkan 100% bahawa aku telah di jangkiti. Dr Mazrima memberikan sepucuk surat rujukan kepadaku untuk ku bawa ke Hospital Sungai Buloh. Kurasakan itu sesuatu yang tidak perlu, namun aku hanya menerima surat yang diberikan.

Fikiranku melayang entah kemana. Tanpa kusedari aku tiba ke kawasan rumah yang menjadi milik Khai dan diriku di Ampang. Aku susur masuk ke perkarangan parking dan naik ke atas. Kunci kuletakkan di atas meja, setiap pelusuk unit studio ini ku pandang. Tersusun kemas setiap perhiasan di tempat masing-masing. Gambar kami berdua menghiasi dinding. Gambar yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan itu ku tatap acap kali.

Sliding door balcony kubuka dan aku lantas mengambil segelas jus dari dalam peti ais. Hanya seteguk jus itu yang mampu masuk ke badanku, sebelum aku meletakkan kembali gelas tersebut di meja di ruang tamu. Dengan perlahan, aku bergerak ke ruangan tidur, semuanya tersusun rapi. Aku berlalu ke arah almari pakaian yang tersedia di sisi kanan ruangan tidur.

Jari jemariku dengan perlahan menyisir kemeja-kemeja Khai yang tergantung rapi. Pergerakanku terhenti di saat aku menyentuh kemeja body-fit rona merah lembut with gold –lining. Kemeja yang ku turut ku pilih sewaktu kali untuk Khai sewaktu kali kedua kami keluar bersama-sama abang Kamahl beberapa tahun lepas. Kemeja itu ku keluarkan dan ku rapatkan ke diriku. Ku dakap perlahan, seolah-olah aku mendakap Khai yang sedang beribu kilometer jauhnya dari sini. Ku letakkan di atas katil, dan satu persatu pakaian yang membaluti badanku ku tanggalkan. Kemeja Khai tadi kini membaluti badanku. Aku rindukan dia. Aku perlukan dia. Aku ingin dia disisiku di saat ini. Namun aku tahu semua itu tidak mungkin berlaku. Bukan sahaja kerana dia berada jauh, namun kerana aku tahu aku sudah tidak layak untuk dia lagi. Aku telah mengkhianati perhubungan kami berdua. Aku telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan Khai kepadaku. Kurasakan diriku kotor yang teramat di saat ini, dan aku tahu aku tidak patut menyarung pakaiannya, aku telah mengotorkan memori indah kami berdua. 

Separuh jiwaku mahu meruntunkan kemeja ini, namun aku tahu, aku memerlukan ia di saat ini. Hanya itu yang ku mahukan. Hanya itu yang dapat aku lakukan disaat ini. Aku perlukan ia. Aku perlukan kehangatan dirinya. Perhubungan yang telah terbina selama hampir 4 tahun kini kurasakan begitu jauh sekali. Bodoh sekali diriku pabila merasakan sedemikian, namun aku tidak dapat menolak pemikiran itu jauh keluar dari kotak pemikiranku.

Langkah kakiku membawaku ke ruangan tamu. Telefon ku yang terletak di atas meja ku capai, dan nombor Khai lantas ku dail. Namun aku mengambil beberapa ketika sebelum butang dail ku tekan. Jam di dinding menunjukkan pukul 6.45 petang, waktu yang sama di Perth. Kemungkinan Khai sedang di gym seperti kebiasaan. Namun, selepas deringan ke 3, panggilan ku di jawab.

“Hello sayang.” Walau beribu kilometer jarak diantara kami berdua, namun dapat kurasakan kemesraan yang tersimpan di dalam 2 patah perkataan tersebut. Dapat kurasakan senyuman manis yang ku amat rindukan tersimpul di wajahnya. Dapat kurasakan kehangatan kembali meresapi setiap inci tubuhku, seolah-olah beribu tahun kesejukan yang membelengu diriku kini hilang dalam sekelip mata. Setitis air mata ku kembali jatuh ke pipiku.

“Hye by. I miss you. By tak pergi gym?” balasku.

“I miss u much more my love. Hari ni by penat sikit dengan kelas, so ingat nak skip gym jer. So sekarang tengah rehat-rehat jer dekat ruang tamu, tengah tengok The Project. Sayang tengah buat aper tue?”

“Sayang tengah bayang diri macam Shontelle.” Kataku cuba untuk menceriakan diriku.

“Ha, Shontelle?”

“I’ma step out of this lingerie,
Curl up in a ball with something Hanes,
In bed I lay, with nothing but your t-shirt on, ooh,
With nothing but your t-shirt on, hey” nyanyiku manja mengalunkan lagu T-shirt dari Shontele.

“Hahahaha. I wish i can be next to you now sweetheart.”

“ I need you so badly right now by. I know I’m being difficult, that I’m being selfish and ignorant, but I need you right here next to me hugging me right now. I need you. I’m sorry.” Aku tidak mampu menahan perasaan dan air mataku lagi. Hanya tangisan menjadi penyambung kata-kataku.

“Shhhhh, sayang, sayang. Calm down please. I am missing you too and you know that I also need you here right now. Calm down please. I dont want you to be crying. Please. It pains me when you cry, and it pains me lot more when I cant be there right now. I promise I’ll come back to Malaysia next weekend okay. Then we will spend the weekend together ok.”
“No.”

“Sayang, I wish I can come back this weekend. But you have to understand...”

“NO! That’s not what I meant. As much as I want to have you right now, I dont wanna see you! I cant. I just cant.”

“Why? I just dont understand all of this. It’s too sudden. What has been bugging your mind? Please, let me know.”

“I am sorry. I betrayed you. I am HIV positif. I am filthy. I dont deserve anything from you.”
Tiada jawapan dari Khai. Aku terdiam. Sudah ku duga akan semua ini. Dan aku terima kerana apa yang terjadi adalah kerana salahku sendiri.

“Sayang, I know this is hard for you, but please wait for me. I will try to get the earliest flight I could. Wait for me, I love you sayang.”

“I am not worth it. I am so sorry. Forgive me.”

“That is bullshit!! I dont care whether you are HIV positive or what. That will never change how I feel towards you. I love you and I will always do. Now please, I’m begging you, be strong for me. Be there for me. We will go through this together. We will work this out. This will never be the end.”

Aku terdiam kaku.

“Sayang dekat mana sekarang?”

“Ampang.”

“Ok, abang Kamahl dah tau?”

“Tak.”

“You want to tell him?”

“I don’t know. Maybe not. Maybe later.”

Seketika berlalu sebelum Khai kembali berkata-kata, “Why don’t you stay at abang Kamahl’s for tonight? Ok sweetheart?”

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tiada apa lagi yang tinggal untukku di saat ini. Aku tidak mampu untuk berjumpa Khai. Setiap inci badanku kurasakan kotor yang teramat. Aku tidak berdaya untuk bertentang mata dengan Khai. Setiap pelusuk hatiku kurasakan bersalah yang begitu mendalam. Bukan hanya Khai. Abang Kamahl, Joe, Hisyam, Vincent. Aku tidak mampu untuk bersua muka dengan mereka semua.

“By akan sampai KLIA dalam pukul 9.30 pagi esok, flight Singapore Airlines pukul 1.10 pagi dari Perth. Will take cab from airport to abang Kamahl’s. Just stay there. I love you.” Mesej dari Khai beberapa ketika kemudian tiba di handphoneku. Lebih kurang 14 jam lagi sebelum Khai tiba.

Maafkan aku Khai.

Dia - Tiga Puluh Lapan


T
Hari ini sudah hampir sebulan semenjak aku menerima surat itu. November 4, 2009, akhirnya aku membawa diriku ke Pusat Darah Negara setelah menelefon nombor yang tertera di dalam surat tersebut.

Mengikut surat yang diberikan, bersama-sama ku bawa buku catitan derma darah ku, aku perlahan menyusuri jalan menuju ke destinasi. Sekitar pukul 10.30 pagi aku tiba di hadapan pintu masuk, namun, entah mengapa aku hanya memberhentikan keretaku di situ. Surat tersebut lantas ku keluarkan dan ku tatap panjang. Entahlah.

Sedang aku leka di buai perasaan yang entah apa, tiba-tiba tingkap keretaku di ketuk. Kelihatan seorang pakcik guard berdiri di luar kereta. Tingkap ku turunkan dan senyuman yang kurasakan tidak bernyawa terhulur.

“Mintak maaf dik, kat sini tak boleh parking. Orang nak lalu lalang.”

“Owh, maaf pakcik.” Balasku pendek.

Lantas kemudian aku kembali memandu kereta, namun aku tidak masuk ke kawasan Pusat Darah Negara tersebut. Aku kembali masuk ke jalan besar, menuju ke Medan Selera Jalan Raja Muda Abdul Aziz, yang terletak bersebelahan dengan kuarters HKL.

Segelas teh ais ku order sebelum duduk di meja di situ. Lantas rokok ku keluarkan dari dalam poket. Sebatang demi sebatang rokok ku hisap. Entah kenapa tiba-tiba aku terkenangkan Khai. Aku tersenyum sendirian. Perkenalan pertama kami bermain di mindaku. Senyum dan tawanya membuatkan aku tersengih sendirian. Gambaran titis air mata yang pernah keluar dari matanya kemudian tanpa sebarang petanda aku terkenangkan. Senyum sendiriku menjadi pudar. Entahlah.

Aku kemudian melihat ke jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 pagi. Rupanya hampir sejam juga aku disini. Kelihatan air teh yang ku order sedari tadi tidak terusik langsung. Aku lantas menghirup beberapa teguk sebelum membayar dan berlalu pergi.

Tiada apa lagi yang harus aku lakukan, aku hanya mahu menyelesaikan urusan ku secepat mungkin. Sudah terlalu lama masa berlalu, sudah lebih dari sebulan semenjak aku tidak lagi mampu untuk menghilangkan keresahan ini. Hanya itu yang ku katakan kepada diriku. Sepanjang perjalanan aku cuba untuk tidak memikirkan apa-apa. Siulan perlahan ku lagukan mengikut lagu yang di mainkan di radio.

Setelah mendaftarkan diri di kaunter dan duduk di ruangan menunggu untuk 10 minit, kedengaran namaku dipanggil. Bilik kedua ku masuki, kelihatan seorang pakar perubatan wanita duduk di kerusi. Dr Tun Mazrima, Hematologist. Dia dengan mesra meminta aku untuk duduk dan bertanyakan akan keadaan diriku.

“I’m ok, I guess.” Balas ku pendek.

“Ok, awak tahu kenapa pihak kami menghantar surat untuk meminta awak hadir ke sini?” tanyanya lagi.

“Erm, tak.”

“Baiklah, ini sebenarnya hanya merupakan satu perkara routine. Boleh saya tahu sudah berapa kali awak menderma darah?”

“Cuma sekali, then saya dapat surat itu.”

“Baiklah. Seperti yang awak tahu, pihak kami menerima darah yang di dermakan dari orang ramai dalam kuantiti yang agak banyak. Darah-darah ini dapat membantu mereka yang memerlukan. Namun, walau bagaimanapun, adalah penting untuk kami memastikan sebarang darah yang di terima oleh mana-mana penerima adalah sehat, dan bebas dari sebarang kuman. Oleh itu, setiap darah yang diterima oleh pihak kami atau mana-mana hospital akan di saring terlebih dahulu sebelum di simpan dan di berikan kepada orang lain. Jadi, untuk mereka yang kami rasakan berisiko, kami akan panggil untuk routine follow-up itu sahaja. Setakat ini awak faham apa yang saya sudah perkatakan?”

“Ya, saya faham. Doktor, saya dapat rasakan yang ini bukan satu routine follow up, dan ada sesuatu yang bermain di fikiran saya. Cuma, saya tak pasti samada itu adalah sesuatu yang betul atau tidak. Saya harap doktor dapat berterus-terang dengan saya akan apa sebenarnya keadaan yang sedang saya alami ini.”

“Baiklah. Saya harap awak faham dan dapat terima apa yang akan saya perkatakan. Ujian yang kami lakukan terhadap bekalan darah yang awak derma dahulu, menunjukkan yang awak telah di jangkiti dengan virus HIV. Awak kini seorang HIV positif.”

Dia - Tiga Puluh Tujuh


T
Hidup seorang manusia tidak akan lari dari susah dan senang. Setelah apa yang aku lalui di dalam hidupku, aku merasakan yang aku telah merasai keduanya. Di saat hidup aku kelam bergelumang perasaan benci dan amarah, di saat aku di belai manja oleh mereka yang menyanyangi ku. Aku merasakan cukup asam dan garam hidupku.

Namun, kadang-kadang, ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang membuatkan aku terduduk kaku, tidak bermaya seolah jiwa ku telah diruntun keluar dari dalam badan. Dan kini aku terasa sebegitu kembali.

Semua kerana waktu itu.

Aku tak menyangka semua itu akan terjadi.

****************************************************************************************************

Seperti kebiasaannya, aku gemar berjalan-jalan di OU sejurus setelah habis sesi wall-climbing. Routine kebiasaan, makan sebentar dan shopping, yang mana ia merupakan retail theraphy bagiku.

Setelah puas menjamah Duck Confit Spaghettini di Delicious, aku terus menuju ke car-park untuk pulang ke rumah.

Badanku terasa ringan dan segar setelah sekali lagi mandi di rumah. Kelas sudahpun tamat dan hanya tinggal final project presentation sahaja. Bulan ini jarang sekali aku pulang ke Ampang, ke rumah Khai dan aku, dek kerana busy dengan study. Oleh sebab itu aku membuat keputusan untuk balik ke Ampang.

Hatiku rasa tenang sekali setelah tiba di rumah. Setiap pelusuk rumah ini dipenuhi kenangan indah. Setiap pelusuk rumah ini dipenuhi dengan senyum tawa kami berdua. Rumah ini syurga bagiku.

Oleh kerana kami mengambil perkhidmatan pembersihan yang datang sekali seminggu, rumah ini kekal bersih dan tersusun walaupun tanpa kehadiranku untuk kesekian kalinya.

Hamparan cadar bersih, susunan buku yang kemas dan tersusun, dan beberapa keping surat di atas meja. Aku lantas mengambil surat-surat tersebut untuk di buka. Tiada apa yang terlalu menarik perhatianku melainkan satu surat dari Pusat Darah Negara. Hatiku lantas terdetik. Aku membuka surat itu dan membacanya.

Dikatakan bahawa surat itu hanyalah satu rutin secara rambang kepada penderma darah. Bulan lalu ketika di KL Sentral telah diadakan satu Blood Donation Drive, dan entah mengapa aku tergerak hati untuk menderma buat kali pertama.

Entah mengapa, disaat setiap kali darahku menitik di waktu itu, aku merasakan sesuatu yang tidak pasti di dalam hati. Aku sendiri tidak mengerti mengapa. Mungkin aku cuma berasa sedikit letih pada waktu itu.

Surat itu meminta aku untuk hadir ke Pusat Darah Negara di dalam waktu yang terdekat. Herm.

****************************************************************************************************

“Joe, u ader dapat tak surat macam nie lepas derma darah haritu?”
“Surat apa? Let me see.” Balas Joe lalu mengambil surat tersebut dari tangan ku.
“Tak. Tapi seingat I masa mula-mula derma darah dulu, I ada dapat surat macam ini jugak.” sambung Joe lagi.
“U pergi?” tanyaku lagi.
“Tak.” Balasnya ringkas sambil tersengih.
“I rasa tak sedap hati la baca surat nie Joe.” Kataku.
“What makes u feel that way?”
“I dont know, I just feel that way. I think I should go and see what’s going on.”

****************************************************************************************************

it's hard to breath tonight,
the dark night seems to be clear of any stars,
there seems to be nothing,
emptiness trying to find its way inside...

my chest feels heavy right now,
was something inside?
or was it something missing?
logic seems to be fading away...

has the time comes?
is it the end?
could this be it?
will I find the answer?

my body is in pain,
my heart aches,
my mind disconnected,
my feeling numbed...

I need a break

****************************************************************************************************

Acap kali aku melihat kembali surat itu. Hatiku resah gelisah pabila surat itu tidak kelihatan di mataku. Namun, pabila pandangan ku menatap ia, satu demi satu patah perkataan ku telan tapi hatiku semakin tidak tenang.

Berkali-kali sesuatu yang sebelum ini tidak pernah menjengah ke pemikiran ku muncul di ruang minda. Entah kenapa. Aku terus menjadi kaget, hatiku menjadi semakin tidak menentu. Aku tidak mahu ia berlaku. Aku, aku, aku, aku takut.
Aku takut akan ketidak tentuan ini.

Dengan tangan yang lemah, SMS “can we talk, by?” ku hantar ke Khai. Waktu baru menunjukkan pukul 9.25 malam, begitu juga di Perth.

Beberapa detik kemudian, handphone ku berdering. Khai. Aku tidak pasti samada aku mahu mengangkatnya walaupun aku yang memintanya untuk memanggilku.

“Hye.” Sapaku pendek.

“Hello sayang. How was your day?”

“Ok. And you?”

“Biasa-biasa jugak. Something’s wrong sayang? You doesnt sound lively.”

Soalan Khai itu kujawab dengan seribu detik senyap. Aku seolah hilang perkataan yang ingin ku ucapkan.

“Sayang, tell me what’s bothering you, please.?”

“I’m sorry.” Hanya itu yang mampu ku katakan.

“You’re forgiven. But, what for?”

“By, sayang rasa tak sedap hati. Sayang rasa sekarang ni semuanya tak kena. Sayang risau. Sayang asyik terbayang sesuatu yang buruk. Sayang takut sangat-sangat. Sayang tak nak apa yang bermain di fikiran sayang jadi kenyataan.”

“Sayang, sayang, sayang. Kenapa ni? By tak paham la sayang,”

Sekali lagi aku hanya terdiam membisu. Terlalu banyak yang bermain difikiran ku namun tiada satu pun mampu ku susun menjadi ayat.

“Sayang, I dont know what are you having right now, but I want you to know that whatever happen, I’m here if you wanna talk about it. If you cant tell me now, that’s ok. Take your time, and when you are ready, you know I’m always ready to listen to you. Be strong like you always did, be brave to face it, and know that, you have me no matter how far we are from each other.”

****************************************************************************************************

Hari-hari yang mendatang berlalu begitu sahaja. Aku cuba untuk menumpukan perhatian kepada final-year project ku dan juga training bersama Microsoft. Surat yang ku terima itu ku simpan di dalam laci, jauh dari pandangan mataku. Namun, hatiku tetap sentiasa memikirkan ia.

Ternyata ia bukan sesuatu yang senang untuk aku lakukan. Walaupun setiap hari aku hadir ke training centre Microsoft dari 9 pagi ke 5 petang, dan di waktu malamnya, aku tidak lekang dengan laptopku menyiapkan final-year project ku, perhatianku sentiasa berbelah bahagi. Tidak, bukan begitu. Seakan-akan aku tidak bisa untuk menumpukan perhatian langsung.

Keresahan itu makin lama makin ketara, aku semakin tidak mampu untuk membendung lagi rasa yang kupendam di dalam hatiku ini. Aku menjadi kaget sepanjang masa. Dudukku tidak selesa, baringku semakin resah. Saat kurasakan begitu panjang sekali. Entahlah.



Dia - Tiga Puluh Enam


T
Aku dan Khai tiba di Charlles de Gaulle Airport, Paris pada pukul 8.40 pagi waktu tempatan. Setelah tiba di balai ketibaan kami singgah sebentar di cafe yang tersedia mendapatkan bekalan sarapan sebelum mendapatkan teksi untuk bergerak ke Orly Airport kerana penerbangan kami seterusnya ke Ajaccio hanya terdapat dari Orly. Perjalanan kami masih berbaki 6 jam sebelum tiba di Ajaccio. Di sepanjang perjalanan, permandangan kota metropolitan Paris memenuhi ruang angkasa. Perjalanan yang agak panjang dari Kuala Lumpur memaksa kami untuk berehat di mana yang boleh. Kota Paris tidak di jelajahi pada perjalanan kali ini kerana kekangan masa yang agak terhad untuk tiba di Ajaccio. Namun, kami telah merancang untuk singgah sebentar di kota Paris untuk 2 hari di akhir percutian kami ke Propriano.

Percutian kali ini telah lama dirancang bersama. Pada mulanya aku mencadangkan untuk kami ke Capri, Italy manakala Khai pula mencadangkan untuk ke Santorini yang terletak di Laut Aegean, Greece. Namun, setelah perbincangan bersama, kami memutuskan untuk ke Propriano, di Pulau Corsica France kerana kami berdua tidak pernah sampai di negara kelahiran Napoleon Bonaparte ini. Unik sekali pabila mengetahui pulau ini juga merupakan tempat kelahiran penakluk tersohor itu.

Aku dan Khai masing-masing sedang menghabiskan cuti semester kami pada kali ini. Aku juga memerlukan percutian ini untuk menenangkan fikiran sebelum kembali menghadapi peperiksaan semester akhir dan final project presentation ku. Kini musim luruh telah menjengah di sini. Warna-warna orange dan merah daun maple menyelimuti seluruh permandangan. Cuaca yang sedikit panas pada 25.6 darjah celcius kurasakan nyaman sekali.

Kami tiba di Miramar Boutique Hotel di Propriano lebih kurang pukul 4.00 petang. Perjalanan selama hampir satu jam dari Ajaccio Airport merentasi kota lama Olmeto menggamit permandangan. Setelah check in di bilik dan meletakkan bagasi yang dibawa, kami berehat-rehat sebentar sebelum mandi bersama, menghilangkan sedikit kepenatan badan sepanjang perjalanan yang jauh dan lama. Hari kami kemudian dihabiskan di sekitar kawasan pantai yang terletak di hadapan hotel penginapan kami.

Setelah episod hitam yang terjadi didalam hidupku beberapa ketika sebelum ini, aku dan Khai menjadi lebih rapat. Perasaan cintaku terhadap Khai kini tiada apa yang mampu memadamkan. Khai pula cuba untuk tidak membangkitkan apa yang terjadi ketika itu. Aku menghargai semua itu. Aku tahu tidak mudah untuk kami melupakan apa yang telah terjadi. Namun, kami nekad dan tekad untuk mengukuhkan kembali cinta yang telah lama berputik di antara kami berdua.

Percutian selama 7 hari di pulau Corsica di habiskan dengan mencipta lebih banyak memori indah bersama. Kami seperti sebelum ini tanpa segan silu untuk menzahirkan perasaan cinta kami, tanpa melanggari batasan dan norma masyarakat tempatan. Waktu berdua bersama di habiskan dengan memadu cinta indah bersama, betapa kami berdua memerlukan masa bersama seperti ini dengan lebih kerap. Khai hanya tinggal setahun setengah lagi tempoh pengajiannya di Murdoch sebelum dia pulang ke Malaysia. Aku tahu, tempoh itu tidak lama memandangkan kami berdua begitu komited untuk masa depan kami berdua. Namun, kadang kala hatiku terdetik untuk bersama di sisi Khai untuk setiap waktu walauku tahu ia nya bukan sesuatu yang terbaik untuk kami pada waktu ini. Pengajian kami harus di teruskan untuk memastikan masa depan yang cerah bersama.

Keesokan harinya kami bergerak ke Port Charles Ornano untuk menyertai Ajaccio Cruise Day Tour. Perjalanan menaiki bot sepanjang perjalanan amat menenangkan sekali. Kami kemudian berhenti di pantai Cala d’Orzo untuk bersantai. Kebiruan air laut begitu menggamit perasaan. Setelah puas berenang, kami kemudian santai menikmati minum petang yang disediakan pihak tour. Keindahan suasana matahari terbenam menambahkan lagi keindahan suasana. Hidangan asli pastri perancis seperti Buche de Noel, Brioche Perdu, Creme Brulee, La Cote Bassque’s Dacquoise diiringi dengan Diane de Belgrave wain merah saling melengkapi keindahan yang kami nikmati. Alangkah bahagianya kurasakan pabila dapat menghabiskan masa bersama seperti ini bersama lelaki yang kucintai sepenuh hatiku. Beberapa kawasan tarikan perlancongan lain seperti Musee Fesch, Bonaparte House, Plage St. Francois kami jelajahi untuk memenuhi masa kami.

Diakhir percutian kami seperti yang telah dirancang kami menghabiskan masa melewati jalan-jalan indah di kota Paris. Champs Elysees Avenue dan Rue de Passy menjadi destinasi kami memamdangkan kami ingin mendapatkan beberapa barangan kenang-kenangan sempena percutian kami.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku dan Khai kemudian mengucapkan selamat tinggal pabila kami tiba di KLIA. Penerbangan pulang Khai ke Perth akan berlepas dalam masa 3 jam lagi. Aku menemani Khai di ruangan menunggu sementara waktu untuk check-in tiba. Perjalanan pulang Khai masih lagi panjang untuk tiba ke Perth, sementara aku selepas ini akan mengambil ERL untuk ke KL Sentral sebelum pulang menaiki tren ke Bangi. Cuti semester ku masih berbaki 3 hari sebelum aku kembali ke kuliah. Mengikut perancangan, Hisyam, Joe dan Vincent masih lagi tidak pulang ke Bangi pada waktu ini.

Setibanya aku di KL Sentral, aku singgah sebentar di McDonalds untuk mendapatkan Oreo McFlurry. Sambil menikmati ice-cream dan menghisap rokok di kawasan menunggu bertentangan dengan KL Hilton, aku mendapat sms dari Khai mengatakan bahawa dia sudahpun masuk ke dalam kapal terbang dan akan berlepas dalam masa 10 minit. Aku menyuruhnya untuk tidur sahaja di dalam kapal terbang memandangkan penjalananya yang masih berbaki hampir 6 jam sebelum tiba di bumi Koala itu.

Selepas itu, sedang aku berjalan menuju ke KTM, kelihatan terdapat program derma darah anjuran Pusat Darah Negara yang sedang berlangsung di ruang legar KL Sentral. Entah mengapa, aku terpaku, dan tanpa aku berfikir panjang, aku kemudian terbaring seketika di recliner melihat darahku menitik kedalam blood collection bag yang di sambung ke lenganku.
“Apa yang aku sedang lakukan?” entah kenapa hatiku tiba-tiba terdetik bahawa saat ini takkan berakhir begini sahaja.